Cerita Dibalik Suksesnya Penthol Gila


Hari libur bukan pengalang untuk bangun pagi, justru harus bisa bangun lebih pagi karena hari ini saya akan berkunjung ke rumah produksi jajanan Penthol Gila. Letaknya berada di Wukisari, Imogiri, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta. Tidak sulit untuk menemukannya, yang pasti jika anda tersesat tanya warga sekitar ya. Pasti dibantu kok ! Soalnya saya alami sendiri hihihi

Penthol Gila sudah berdiri sejak tahun 2012 namun sebelumnya sudah memiliki produksi bakso namun dirasa kurang menjual sehingga mengganti produk yang sekarang disebut Penthol Gila. Dengan tagline delicious and good taste Penthol Gila berhasil eksis hingga saat ini berkat ide kreatif pemilik Penthol Gila yang lebih akrab disapa Mas Abit. Katanya karena kepepet ide itu muncul dengan sendirinya sehingga tercetuslah Penthol Gila.

Ada 3 variasi saus yang nikmatnya memiliki ciri khas masing-masing yaitu saus kacang, rempah, dan cabai. Dari ke-3 saus ini saya paling suka dengan Penthol Gila saus rempah, dari namanya saja sudah pasti kaya akan bumbu-bumbu yang berasal dari Indonesia pastinya. Dan rempahnya itu meresap hingga kedalam Pentol. Kalau saus kacang dengan gilingan kacang yang renyah membuat pentol terasa chruncy. Nah, yang terkahir ini rajanya Penthol Gila karena saus cabai yang dibuat Mas Abit bikin nangis.

Selain menjual Penthol Gila ternyata Mas Abit memiliki produk lainnya. Seperti abon dengan 3 jenis yaitu sapi, ayam, dan kelapa produk berikutnya adalah kikil. Hmmm anda pencinta kikil ? dengan tingkat kekenyalan dan empuk maksimal cobain deh … Langsung bisa dm via Instagram @pentholgila.

Terimakasih sudah membaca artikel berjudul “Cerita Dibalik Suksesnya Penthol Gila”  jika artikel ini bermanfaat untuk teman, saudara, keluarga anda silahkan dibagikan. Dan tonton keseruan monyoku ke Rumah Produksi Penthol Gila dalam video berikut ini.

Share:

Seru !! Jelajah Malam Museum


Pagi itu suasana hatiku sangat bersemangat, bangun sebelum ayam berkokok dengan menggunakan celana trainning dan berbekal kamera aku langsung berjalan menuju benteng Museum Benteng Vredeburg. Melewati gang kecil dengan hiasan mural disisi kanan dan kiri membuat perjalananku menuju Museum Benteng Vredeburg. Sekitar 15 perjalan jalan kaki dari Sosrowijayan cukup membuat aku ngos-ngosan. Tetapi suasana didepan gerbang benteng membuat rasa lelah sirna merasakan kebagaian orang-orang yang berjalan, duduk-duduk santai, hingga berjualan juga tersenyum bahagia.

Pak, permisi mau tanya. Saya ikut Jelajah Malam Museum, kumpul dimana ya ? Tanyaku pada satpam yang berjaga didepan Museum Benteng Vrendeburg. Owh silahkan masuk mas, lurus saja yang ada tugunya mas.

Langkah kakiku mulai dipercepat hingga tampak suasana di Museum Benteng Vredebur seperti dijaman perang dahulu. Panitia Jelajah Malam Museum menggunakan pakaian layaknya akan berperang, tidak hanya panitia beberapa peserta juga mengenakan pakaian perang. Gubuk-gubuk gudang makanan didirikan untuk peserta Jelajah Malam Museum.

Akhirnya waktu pendaftaran ulang peserta Jelajah Malam Museum telah dimulai terlihat antrian langsung memenuhi gubug untuk mendaftar. Peserta Jlajah Malam Museum 2017 berasal dari berbagai komunitas dan peserta umum. Mulai darii Komunitas Generasi Pesona Indonesia Regional Jogja atau lebih sering disebut GenPI Jogja, Masyarakat Digital Jogja, Roemah Toea, Onthel Pojok, Magelang Tempo Doeloe, Guyub Seni, Magelang Kembali, Djokjakarta 1945 dengan total peserta adalah 150 orang.

Ingin lebih tahu cerita seru pengalam Monyoku menjelajahi 4 Museum dari siang hingga malam hari ? Tunggu kiriman berikutnya ya.. Terimakasih 
Share: