D'Paragon Vlog & Video Competition #2 Berhadiah Puluhan Juta Rupiah

d'paragon vlog
instagram.com/lombavlog

D'Paragon Vlog & Video Competition #2 Berhadiah Puluhan Juta Rupiah

 D’paragon lomba video #season2 telah dimulai gaess. Hadiahnyaaa bukan main 😱😱 kalo gak percaya ikutan aja deh..
.
:::Tema 👉Review D'Paragon kost eksklusif dan Explore wisata:::
---------------------------
Juara 1) Rp 10.000.000
Juara 2) Rp 7.500.0000
Juara 3) Rp 5.000.000
----------------------------
Harapan 1) Rp 1.500.000
Harapan 2) Rp 1.250.000
Harapan 3) Rp 1.000.000
Harapan 4) Rp 750.000
Harapan 5) Rp 500.000
Harapan 6-13) @ RP 250.000

:::Postingan Like & tayang terbanyak (tidak berlaku dengan akun fake):::
Juara 1) 1.500.000
Juara 2) 1000.000
Juara 3) 500.000
:::Posting Tercepat:::
1 Rp 250.000
2 Rp 250.000
3.Rp 250.000
.
🔐Syarat & ketentuan[[WAJIB]] 1. Follow, Tag dan hastag @dparagonkost#dparagonkost#dparagonvideocompetition2018
2. Repost poster dan caption lomba
3. Tambahkan Caption yang menarik
4. Tag 5 teman di poster lomba dan tag 5 teman di video yg di lombakan
5. Akun jangan di private
6. Durasi 1 menit dengan menggunakan frame D’PARAGON
7. Link pendaftaran https://goo.gl/hqPXXG
8. Link SKB dan Frame D'paragon https://goo.gl/UaeRho
9. Video tidak pernah diikutkan lomba sebelumnya
10. Karya Video Original & Audio No Copyright Content

:::Periode lomba tanggal 15 Oktober- 15 Desember 2018
Tidak dipungut biaya apapun [[GRATIS]]:::
:::Juri lomba:::
@jhon_dayat81
@abdulhakimtop
@wahyudharma
:::More info:::

📷 @dparagonkost
.
Salam kreatif tanpa batas ✌

Credit instagram.com/dparaonkost via @LombaVlog
Share:

Ambisi Mengampiri Membuat Pudar Janji

Hari ini sudah 91 hari kurang lebih pasca operasi yang membuatku yakin, bahwa dalam adegan film saat di ruang operasi memang mendebarkan. Mungkin suatu hari kamu harus mencobanya, bukan menjadi pasien tapi menemani istri atau saudaramu yang akan melahirkan haha...

Oktober sudah akan berlalu, akhirnya ceremony perayaan hari kelahiran sudah tidak sesering masa remaja. Aku paling tidak menyukainya. Hanya akan mengingatkan kejadian lampau saat di ibu kota. Pedih, perih, dan kata menggerakan bibir berucap "kota metropolitan amat kejam". 

Begitu kejamnya aku dengan mengkambing hitamkan keadaan aku tidak ingin berkomunikasi. Walapun hanya via whatsapp, dan semua kedaan menjadi melambat. Begitu pun dengan gerak-geriku yang selalu 'diladenin' penuh kasih. Hingga bibir berucap "Aku tidak akan kemana pun sampai tugasku berakhir, setidaknya aku di pulau Jawa". 

Hei... aku sudah rindu bertegur sapa! Aku dahulu memahami diriku sebagai penyandang 'introvet' tapi entah sejak kapan 'introvet' berubah menjadi terbalik. Aku bahkan bisa berbicara dengan orang yang tidak aku kenal di jalan. Mungkin aku hanya tersugesti oleh novel-novel yang telahku baca. Aku suka berbica hal penting, menyenangkan, namun tidak serius. Kini aku menunggu mahkotaku kembali dan tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Gaes! Hari ini aku berambisi untuk keluar dari pulau Jawa. Namun, tujuanku menjadi kabur tanpa fokus. Menjadi merpati yang terbang kesana kemari mencari suasan hangat yang fana. Kepalaku menjadi pusing akibatnya. Saat ingin terlelap, aku ingin membagikan ini. Karena aku tahu tidurku tidak nyeyak karena ini. Tidak bisa terlentang~ 

Mungkin aku kurang bersyukur, padahal matahari masih bersinar dipagi hari. Bintang masih mendampingi kehadiran bulan kala petang. Ya... selamat berjuang semuanya. Aku hanya ingin bercerita karena menulis dapat meredakan sakit tanpa air mata tanpa bersuara.

Jangan berambisi karena hati akan tergoyah yang membuat pudar janjimu.
Monyoku


Yogyakarta 30 Oktober 2018
Pukul 20.15 WIB

Share:

Pasar Seni Lukis Indonesia 2018, Lebaran Para Pelukis di Indonesia

pasar seni lukis indonesia
Model untuk dilukis, Dokumentasi Monyoku.


Aku melangkah dengan kecepatan di atas rata-rata orang Indonesia berjalan, bahkan bisa dikategorikan berlari. Dari balik seragam rompi hitam dan kemeja putih ada dua orang yang mengikutinya.  Aku dan Kak Khun hampir tertinggal pesawat di Bandara Internasional Ngurah Rai menuju Bandara Juanda Surabaya. Detak jantungku terasa begitu cepat setelah duduk meluruskan kaki di kursi pesawat. Kekosongan bangku membuat pola pikir “Owh... masih banyak yang kosong, kita tidak terlambat kan?”, kataku dalam hati.

Sebelum transit di Bali aku dan Kak Khun naik pesawat dari Bandara Internasional Adisutjipto. “Nyo, kamu di mana?”, pesan whatsapp muncul dari sisi atas layar smartphoneku. Aku masih belum check in dan terlebih lagi memasuki ruang tunggu penerbangan.  Bergegas aku memasuki detektor “Beep beep beep”, bunyi itu membuat aku berpikir benda apa yang masih melekat di tubuhku? Ternyata penjepit kertas yang aku jadikan sabuk lupa aku ambil. Hahaha... kamu ingin tahu bagaimana bisa penjepit kertas menjadi sabuk?

Baiklah, lupakan jika itu kurang menarik rasa penasaran kamu. Sesampainya di Bandara Juanda Surabaya aku menunggu teman dari Lombok. Kak Subhan namanya, dia menjadi salah satu saksi akan goncangan gempa bumi yang terasa beberapa waktu lalu. Delay – Transit – Berlarian membuat tenagaku cukup terkuras hingga serasa aku tidak punya semangat untuk membuat video bloger tentang perjalananku kali ini. Terasa aku ingin sampai pulau kapuk dan menerjunkan tubuhku.

Akhirnya aku mulai bertemu dengan teman-teman lainnya dari berbagai daerah dan membuat semangatku kembali lagi. Mungkin bisa jadi efek makan siang di Bebek Goreng Sinjay nih. Aku bertemu Kak Roby dari Jakarta, Kak Frea dari Madura (sotoy, ini aku berasumsi dengan mendengarkan percakapan Kak Khun dan Kak Frea di mobil hahaha), Kak Arlan dari Jambi, dan Kak Amel dari Tangerang.

Bebek Goreng Sinjay ini memilik tekstur daging yang mempuk dengan teman sambal rujak yang yummy... Aku bermandikan keringat karena makan Bebek Goreng yang satu ini.

Yap, kami sudah siap menuju Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2018 yang berlokasi di Jatim Expo. Eits... tapi sebelumnya letakan barang-barang di hotel terlebih dahulu dan nanti kami akan ditemani oleh Sakinah serta Ismi selama di Surbaya.


Suasana di Pasar Seni Lukis Indonesia 2018, Dokumentasi Monyoku

Jika mendengar kata ‘lukisan’ apa yang ada dibenak kamu? Apakah “Monalisa?”, bisa jadi kamu memang harus benar-benar mengunjungi  PSLI karena berbagai lukisan dari pelukis-pelukis Indonesia hadir di Jatim Expo. Ratusan pelukis yang karyanya sudah terbang di luar negeri hingga karya lukisan unik dari batu akik, bulu, melukis dengan jari kaki atau lidah. Hm.... menajubkan sekali bukan?

Dari depan gedung Jatim Expo tertampang nyata tanpa badai Syahrini, tertulis “Ajang pertemua, pelukis, kolektor, dan masyarakat”, Ya ini adalah lebaran para pelukis Indonesia. Pertama kali stand lukisan yang aku cari adalah Sadikin Pard. Pelukis asal kota Malang yang melukis menggunakan jari kaki. Keren ya! Salah satu kata yang menginspirasi adalah “Bisa melukis itu biasa mas, tapi bisa berkarya lukisan dengan entertain itu sangat luar biasa”, ini menginspirasi Monyoku untuk membuat vlog dengan ciri khas yang berbeda. Semua orang bisa membuat video bloger tetapi harus ada yang dapat menarik para penonton. Kira-kira itu yang dapat aku ambil kesimpulan.

Masih banyak cerita seru dan menginspirasi dari pelukis yang tiba-tiba melukis Monyoku dengan waktu singkat 5 menit dan mewawancarai ibu dari pelukis belia yang mengikuti PSLI 2018. Tunggu cerita lengkapnya di chanel Monyoku dalam bentuk Vlog. Terimakasih.

Eits... Hampir lupa! Ayo datang di Pasar Seni Lukis Indonesia 2018, bertempat di Jatim Expo mulai dari 12-21 Oktober 2018.

Share: