Di Diagnosa Menderita Soft Tissu Tumor?

Setelah menempuh antrain yang lumayan siangkat, karena kuncinya adalah datang pagi hari maka pulang akan lebih cepat ya.. hahaha... Setelah mendengar keluhanku yang tidak macam-macam mulai giliran dokter yang menjelaskan macam-macam hwaaa... emosiku diaduk-aduk pagi itu hingga siang hari semua pesan dari aplikasi whatsapp aku balas dengan kata-kata yang kurang tepat. Alhasil, aku merasa ada yang aneh saat membaca pesan yang belum terbalas hingga siang hari. Dan aku pun tersadar. Lebih baik aku tidak membalas pesan-pesan ini terlebih dahulu.

Di Diagnosa Menderita Soft Tissu Tumor? Yah, kalau aku baca sana sini pengertiannya tumor jaringan lunak. Pada tanggal 23 Juni 2018 di salah satu puskesmas aku pun memberanikan diri untuk memeriksakan benjolan yang ada di kepala. Kalau di tanya sejak kapan? Jujur saja aku tidak tahu pasti.

Sejujurnya aku tidak paham mengapa terlalu memikirkan kemungkinan terburuk. Aku rasa saat kemungkinan terburuk benar terjadi aku pun sudah siap. Namun, aku masih memikirkan hal lain. Orang-orang lain disekitarku, mungkin ini kelemahanku yang memiliki rasa simpati dan empati cukup tinggi. Sekecil apapun akan aku tanyakan dan ingatkan, tetapi hal itu menjadi hal yang kurang tepat, aku rasa. Dan mulai menjauh... lebih baik mundur perlahan-lahan.

Aku ingat saat pergi ke sebuah pasar malam. "Hati-hati tasnya diletakakn di depan" Seseorang berseru di keramaian pasar. "Biasanya yang mengatakan hal seperti itu Monyo" Pungkas seseorang lainnya.

Aku tahu sakit saat mengetahui teman, saudara, atau bahkan orang lain yang tidak kita kenal mengalami hal buruk. Sekecil apapun seperti misalnya tertinggal dompet atau tas kemudian hilang? Aku selalu berfikir jika hal itu terjadi pada keluargaku atau bahkan diriku sendiri.

Aku selalu bersimpati dan empati hingga aku lupa kewajibanku. Di sata seperti ini ingin bersyukur masih bisa merasakan sakit di negeri yang suananya dapat menjernihkan pikiran. Menyamarkan rasa sakit di tengah-tengah masyarakat yang damai dan tentram.

Jangan pernah takut saat mendengar masa depan yang terdengar buruk, karena setelahnya aku yakin tidak akan terasa sakit.

Jangan takut menjadi beban, yang terpenting jangan terbebani hal yang belum dialami.


Berlanjut dari penjelasan dokter, benjolan di kepalaku tidak lunak tetapi keras. Kemungkinan lain isinya berbeda dengan tumor. Jadi segera di periksa dengan rujukan, jangan lupa di urus BPJSnya (salah satu asuransi kesehatan ya? iya nggak sih haha) Hari itu dokternya penuh rasa kasih sayang memberikan penjelasan hingga surat rujukanpun diantarkan hingga ke ruang tunggu. Biasanya pasti diminta untuk mengambil sendiri setelah di panggil. Aku hanya ingin berbagi cerita, aku rasa sendiri menghilangkan bebanku. Masih akan ada kelanjutannya? Pasti, karena terkakhir aku mendengar bisa jadi tumor akan belanjut ke kanker. Ya kantong kering hahaha...



Yogyakarta, 25 Juni 2018.
Pukul 23.07 WIB


---
---
---

Akhirnya aku bisa mudik, tepat pukul 18.23 WIB 05 Juli 2018 memulai menambahkan cerita lagi. Ternyata diagnosa dokter umum salah. Tetapi tetap saja namanya membuat aku mual-mual. Seperti akan belajar biologi saat Sekolah Menengah Atas. Osteoma occipital? pernah mendengarnya? Aku rasa asing. Hm.. katanya ini tumor jinak dan tidak perlu dikhawatirkan. Tetapi khasus ini jarang sekali sehingga membuatku membayangkan hal yang mengerikan selalu. Duh duh... cari di google nih ya.. dengan kata kunci Osteoma occipital ditemukan 2 artikel berbahasa indonesia dari wikipedia dan aladokter. Lalu, apakah karena tumor ini sepele? tidak perlu dilakukan tindakan medis? rasanya aku tidak ingin pergi ke dokter mana pun.

Cilacap, 05 Juli 2018

---

Share:

2 komentar:

  1. Tetap semangat kawan, You can do it, and Keep Strong! Seamangat bosssss! :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Dwi, iya pasti!

      Hapus