Berbincang Batik dengan Dosen Milenial Aditya Revianur - Monyoku

Update

Minggu, 24 Mei 2020

Berbincang Batik dengan Dosen Milenial Aditya Revianur

Hai apa kabar? Semoga dalam keaadaan sehat ya. Beberapa waktu yang lalu, aku berkesempatan menghadiri Simposium International Budaya Jawa dengan tema “Busana dan Peradaban  di Keraton Yogyakarta”. Acara simposium berlangsung tanggal 9 dan 10 Maret 2020.


Simposium International Budaya Jawa merupakan rangkaian dalam acara Tinggalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bertempat di Kasultanan Ballroom, Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta.


Simposium International Budaya Jawa pembicaraan terbagi dalam 4 kategori, yaitu Sejarah, Filologi, Seni Pertunjukan, dan Sosial Budaya. Pada sesi Sejarah pembicara adalah Dr. Sandra Sardjono (dari Tracing Pattern Foundation San Fransisco), Dr. Siti Maziyah (Universitas Diponegoro Semarang), Aditya Revianur, M. Hum (Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), dan Ghis Nggar Dwiadmojo (Universitas Negeri Yogyakarta), dengan moderator Dr. RM. Pramutomo (ISI Surakarta).

 

Saat waktu istirahat tiba, aku berkesempatan untuk berbincang bersama mas Dosen Milenial Aditya Revianur di Simposium International Budaya Jawa. Jujur saja au bingung mau tanya apa, karena pembicaraan terkait Sejarah membuatku pusing haha. Tapi sangat disayangkan jikalau kesempatan ini dilewatkan begitu saja.


Aditya Revianur Dosen UGM
Aditya Revianur saat menjadi pemateri di Simposium Internasional

Jadi akhirnya aku bertanya terkait pesan mas Aditya Revianur tentang pesan yang ingin disampaikan terkait batik dengan mengukuti Simposium International Budaya Jawa ini. Sebelum tanya pastinya kenalan dulu, Mas Aditya mengenalkan diri asli Jawa Timur, Bojonegoro. Tapi setelah kepo dengan henpon jadoel, akhirnya ketemu bahwa mas Aditya Revianur, M. Hum, lahir di Surabaya, 3 Januari 1990. Lulusan master bidang Arkeologi, Universitas Indonesia. Kini berprofesi sebagai dosen di Departemen Arkeologi, Universitas Gadjah Mada.


“Sebenarnya kalau kita berpakaian batik, batik punya kode tertentu dan batik itu dibuat jaman dulu ada maknanya” ucap mas Aditya Revianur mengawali perbincangan.
 

“Contohnya sampean pakai Batik Parang Barong di Pasar kan itu nggak pas, atau pakai Batik Parang Klitik di Malioboro itu ngga pas konteksnya” lanjut mas Aditya


Menurut mas Aditya Revianur sebagai orang Jawa melihat batik itu dulu sudah punya tujuan dibuat ngga main-main. Kalau batik yang punya tradisi jaman dulu turun temurun. Kemudian penggunaanya kurang pas itu istilahnya mereduksi nilai dari filosofi batik itu sendiri.


Selain itu, kalau kita lihat jaman dulu bahwa penggolongan masyarakat juga ada dan itu mewakili busana. Jaman sekarang memang lebih cair dan permasalahan sekarang itu saat penggunaanya tidak sesuai dengan konteks.

 
“Contohnya Sampean pakai Batik Kawung tapi diacara kematian seseorangkan tidak cocok juga.  Pakai Batik Parang dinikahan itu kan ngga cocok. Dulu itu semua pakaian digunakan diacara apa, siapa yang menggunakan  itu semua sudah diatur. Sebenarnya ini yang sekarang hilang di Jawa. Jadi semua orang bebas aja.” Jelas mas Aditya.


Lalu mas Aditya menjelaskan kalau melihat batik punya motif sendiri-sendiri dan warna sendiri-sendiri pastinya kegunaanya pun lain-lain. Batik yang sebenarnya tidak bisa dipukul rata  penggunaannya pada motif batik yang sama.Itulah kalau mau berbusana dalam prespektif batik yang sebenarnya. Kecuali kalau batik kontemporer boleh digunakan.

 
“Aku sendiri suka motif batik Parang dan Kawung.” Ungkap mas Aditya saat menceritakan kenangan menggunaan motif batik tersebut.


Kira-kira menurut mas Aditya kalau menanggapi soal trend “outfit lu apa?” yang membuat orang-orang lebih mengenal brand luar dari pada motif batik sendiri? Tetapi jika membuat batik sebagai kontemporer bakal mereduki nilai batik. Kemudian prespektif busana anak muda harus seperti apa?

 
“Jadi sebenernya motif batik Parang itukan motif kuno tapi dipakai acara yang tidak sesuai, itu kan mereduksi. Tapi kalau untuk gaya baru ya monggo saja. Tidak masalah, berarti sudah gaya baru bukan yang gaya lama. Permasalahan sekarang orang pakai batik yang motifnya-motif lama, warnanya juga motif lama. Motif dan Warna itukan ada maknanya semua dan itu dipakai di acara yang tidak pas  pasti itu akan mereduksi tujuan batik itu sendiri dan tujuan pemakaian. Istilahnya kalau dulu setiap pakaian adalah do’a. Tapi kalau membuat batik baru ya nggak masalah.” Jelas mas Aditya


Pesan Aditya Revianur untuk anak-anak sekarang adalah harus tahu perbedaan batik cap, batik tulis, dan batik printing. Karena persoalaan sekarang banyak batik motif printing. Pemakaian batik sekarang lebih banyak tapi saking banyaknya itu kemudian menjadi kapitalis dan kemudian menghilangkan konteks batik itu sendiri. Jadi harus adanya edukasi para pemakai batik. 


Wah seru juga ya, ngobrolin tentang batik, pastinya bakal ada pembahasan lebih lanjut terkait batik ini. Batik memang unik dan mahakarya yang luar biasa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar